Friday, 1 December 2017

KEMAMPUAN DAN INTELIGENSI


BAB I
PENDAHULUAN

Manusia merupakan salah satu makhluk ciptaan Allah -azzawajalla- diantara sekian banyak ciptaan yang lainnya. Di dalam agama Islam setiap manusia terlahir ke dunia dalam keadaan fitrah (suci), tidak membawa dosa apapun. Di samping itu, dalam penciptaannya telah Allah -azzawajalla-bentuk jasadnya sedemikian rupa beserta kemampuan-kemampuan yang telah Allah -azzawajalla-titipkan pada jasadnya. Meskipun penciptaan manusia pada umumnya sama, akan tetapi terdapat berbagai macam potensi yang berbeda-beda pada setiap diri manusia.
Adapun problematika yang sering disebut-sebut yaitu apabila seseorang tidak mampu menguasai suatu disiplin ilmu dalam jangka waktu yang telah ditentukan maka lontaran kata paling pertama didengar ialah “kamu bodoh”, “tidak pandai” dan sebagainya. Tentu saja hal ini berlawanan dengan konsep penciptaan manusia.
Demikian juga jika ditinjau dari segi waktu, manusia akan melewati fase-fase kehidupan untuk proses pertumbuhan dan perkembangannya. Masa-masa inilah yang akan memberikan perubahan pada diri manusia sedikit demi sedikit melalui proses pelatihan dan pembiasaan.
  
BAB II
PEMBAHASAN 

A.    Kemampuan Dasar Manusia
Allah U dengan segala kuasa yang dimiliki-Nya menciptakan anak adam dengan segala kesempurnaan. Menganugerahkan segala nikmat untuk dimanfaatkan demi kelangsungan hidup hamba-Nya. Allah berfirman dalam surah at-Tin ayat 4:
)لَقَدْ خَلَقْناَ اْﻹِنْسٰنَ فِـىۤ أَحْسَنِ تَقْوِيْــــمٍ(
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.[1]
Kemudian Allah -azzawajalla- memuliakan dan menganugerahkan manusia segala nikmat untuk kelangsungan hidupnya. Allah -azzawajalla- berfirman dalam surah al-Isra ayat 70:
)وَلَقَدْ كَرَّمْناَ بَنِــيۤ اٰدَمَ وَ حَـمَلْــنٰهُمْ فِـى اْلبَرِّ وَ اْلبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِنَ اْلطَّــــــيِّــــبــٰتِ وَ فَضَّلْنٰهُمْ عَلــىٰ كَثِيْرٍ مِّـمَّنْ خَلَقْناَ تَــــــــفْـــــضِـــيْـــــلاً(
“Dan sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna”.[2]
Kesempurnaan yang dianugerahkan kepada manusia tidak terlepas dari tanggungan yang Allah -azzawajalla- bebankan kepadanya, yaitu menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Sebagaimana Allah -azzawajalla- berfirman dalam Surah  al-Baqarah ayat 30:
)وَ إِذْ قَالَ رَبُّك لِلْمَلَئِكَةِ اِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيْفَةً(
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah[3] di bumi””.[4]
Ayat di atas menerangkan bahwasanya salah satu tujuan penciptaan manusia yaitu memimpin dan mengelola dunia dengan segenap kemampuannya, dan pesan yang tersirat di dalam ayat di atas yaitu Allah -azzawajalla- menganugerahkan kemampuan dan kesempurnaan kepada manusia untuk digunakan memimpin dunia.
Adapun kemampuan dasar yang dimiliki manusia tidak terlepas dari tiga potensi dasar kemampuan manusia, antara lain:
1.      Jasmaniah
Jasmaniah atau fisik yang dianugerahkan oleh Allah -azzawajalla- kepada setiap manusia, berupa anggota badan; kepala, tangan, kaki, dan lain-lain dituntut untuk digunakan pada hal yang bermanfaat baginya. Jasmani memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi, seperti kebutuhan biologis, istirahat, dan kebutuhan makanan halalan thayyiban, Allah -azzawajalla-berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 168 :
)ياَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الأَرْضِ حَللًا طَيِّبًا(
“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi”[5]
2.      Rohaniah
Rohaniah atau psikis merupakan nikmat Allah -azzawajalla- sebagai potensi kecerdasan yang dikandung dalam jasmani berhubungan dengan energi spiritual antara hamba dengan Tuhannya. Adapun cara untuk memperoleh energi tersebut dengan berdzikir.  Allah -azzawajalla- berfirman dalam surah ar-Ra’d ayat 28:
)الذِينَ أَمَنُوا وَ تَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ(
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka tenteram dengan mengingat Allah U”.[6]
3.      Akal
Nikmat akal Allah -azzawajalla- anugerahkan kepada manusia sebagai pembeda antara manusia dengan hewan. Akal digunakan untuk berpikir agar mampu menyelesaikan problematika kehidupan. Kebutuhan akal yaitu ilmu, Allah -azzawajalla- berfirman dalam surah an-Nahl ayat 43:
)فَسْأَلُوا أهْلَ الذِّكرِ اِنْ كُنْتُم لَا تَعْلَمُونَ(
“maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”.[7]

B.    Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik
Jika dicermati dengan baik, setiap manusia memiliki perbedaan yang begitu jauh dari berbagai segi. Ada seseorang memiliki pengetahuan yang luas, namun kurang cermat dalam mengaplikasikannya. Ada juga seseorang tidak berpengetahuan luas, namun pandai mengaplikasikannya. Hal ini sering ditemui di kalangan masyarakat. Adapun seseorang yang mampu menguasai perilaku kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan) dan psikomotorik (aktif/praktek), akan memudahkannya menjalani kehidupannya.
1.      Kognitif
Kognitif berhubungan dengan kognisi. Adapun kognisi, yaitu kegiatan atau proses memperoleh pengetahuan (termasuk kesadaran, perasaan dsb) atau usaha mengenali sesuatu melalui pengalaman sendiri.[8]
Kognitif merupakan perilaku yang berhubungan dengan kecerdasan dan kepintaran otak yang diperoleh dengan cara belajar.[9]
Setiap siswa dituntut untuk menggali ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya, karena jika dilihat dari segi umur, siswa memiliki waktu yang masih panjang untuk berkembang. Pengetahuan yang dimilikinya bisa di manfaatkan untuk menyeleasikan problematika kehidupan, baik sektor ekonomi, politik, kedaulatan negara dan sebagainya. Oleh sebab itu, kemampuan perilaku kognitif sebaiknya dimiliki oleh setiap siswa.
Terdapat beberapa hal yang disebutkan oleh Bloom terkandung dalam ranah kognitif, antara lain:
a.       Pengetahuan, yaitu kemampuan mengingat materi.
b.  Pemahaman, yaitu kemampuan memahami materi dengan berfikir dan berusaha menangkap materi.
c.    Penerapan, yaitu kemampuan mengambil manfaat dari materi dan menerapkan pada kondisi yang berbeda.
d.   Analisis, yaitu kemampuan menguraikan materi dan mengetahui sebab akibat dari materi serta memahami hubungan antara satu komponen dengan komponen lainnya.
e.   Sintesa, yaitu kemampuan memadukan konsep sehingga menghasilkan sesuatu yang baru.
f.       Evaluatif, yaitu kemampuan dalam hal menguji dan memberi nilai.
2.                2.     Afektif
Jika dilihat di KBBI, afektif yaitu perilaku yang berkenaan dengan perasaan. Seperti takut, cinta, dan sebaginya.[10]
Afektif merupakan perilaku yang berhubungan dengan emosi, perasaan, dan dapat mengatakan apa yang dirasakannya kepada orang tua atau saudaranya.[11]
Perasaan (feeling) sama seperti emosi merupakan suasana batin atau suasana hati yang membentuk suatu kontinum atau garis. Kontinum ini bergerak dari ujung yang paling positif yaitu sangat senang sampai ke ujung paling negatif, sangat tidak senang. Beberapa bentuk perasan lain yaitu suka atau tidak suka, tegang atau lega, dan sebagainya.[12]
Ada beberapa hal yang disebutkan oleh Krathwol terkandung dalam ranah afektif, antara lain:
a.     Penerimaan, yaitu kemampuan memperhatikan penjelasan materi.
b.   Respon atau parsitipasi, yaitu kemampuan memberi perhatian kepada penjelasan dan aktif dalam belajar.
c.    Penilaian atau penentuan sikap, yaitu kemampuan memberi nilai perasaan dari suatu keadaan, baik menerima, menolak atau tidak menghiraukan.
d.   Organisasi, yaitu kemampuan menyatukan nilai-nilai dari sikap-sikap yang berbeda yang muncul secara eksternal menjadi suatu sistem internal.
e.    Karakterisasi/pembentukan pola hidup, yaitu kemampuan membentuk kepribadian yang baik, dengan tujuan terciptanya aturan pribadi, emosi jiwa, perasaan dan sosial.

3.               3. Psikomotorik
Di dalam KBBI disebutkan, psikomotorik yaitu sesuatu yang berhubungan dengan aktifitas fisik yang berkaitan dengan proses mental dan psikologi.[13]
Adapun pengertian lainnya, psikomotorik merupakan perilaku yang berhubungan dengan gerak motorik. Seperti gerak kaki, tangan, bicara dan sebagainya.[14]
Setiap anggota tubuh yang telah Allah U ciptakan terdapat padanya perintah untuk selalu digunakan dalam hal kebaikan. Bahkan Rasulullah r menekankan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah -radhiallahu 'anhu-:
كُلُّ سُلَامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيهِ صَدَقَةٌ (رواه البخاري و مسلم)
“Setiap persendian manusia wajib mengeluarkan zakat”.[15]
Ada beberapa hal yang disebutkan oleh Davc terkandung dalam ranah psikomotorik, antara lain:
a.      Peniruan, yaitu kemampuan mengamati dan mengikuti.
b.  Manipulasi, yaitu penekanan perkembangan kemampuan siswa dengan mengikuti petunjuk-petunjuk, dalam hal ini siswa menampilkan sesuatu dengan pedoman petunjuk.
c.    Pengalamiahan, yaitu tingkah laku yang tidak mengorbankan banyak tenaga fisik dan psikis.
Setiap komponen di atas saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Seperti seorang siswa memperhatikan pelajaran mengenai teknik berenang dari Guru penjaskesnya. Ia mampu menangkap pelajaran dari Gurunya (ia berhasil memperoleh perilaku kognitif), sehingga muncul rasa senang dan menyukai berenang (bentuk perilaku afektif). Hal selanjutnya yang dilakukan siswa yaitu praktek berenang dari pengetahuan yang dimilikinya (bentuk perilaku psikomotorik).

C.     Intelegensi
Intelegensi merupakan salah satu anugerah yang terdapat dalam diri manusia yang bisa digunakan untuk memecahkan masalah (problem solving). Super dan Cites mengemukakan (dikutip oleh Wasty Soemanto)[16] inteligensi ialah kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan atau belajar dari pengalaman. Manusia hidup untuk berinteraksi dengan lingkungannya agar mampu menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungannya untuk kelestarian dan perkembangannya.
Definisi di atas dianggap masih bersifat umum, oleh sebab itu Heidenrich (dikutip oleh Wasty Soemanto)[17] mendefinisikan inteligensi lebih rinci, yaitu kemampuan untuk belajar dan menggunakan apa yang telah dipelajari dalam usaha penyesuaian terhadap situasi-situasi yang kurang dikenal, atau dalam pemecahan masalah-masalah. Setiap manusia memiliki masalah, dari masalah tersebut manusia akan memperoleh pelajaran yang bermanfaat baginya.
Terdapat banyak definisi yang dinyatakan oleh para ahli mengenai makna inteligensi, hal ini disebabkan konsep inteligensi bersifat abstrak dan luas. Oleh sebab itu, John W. Santrock merangkum definisi inteligensi, yaitu keahlian memecahkan masalah dan kemampuan untuk beradaptasi pada dan belajar dari pengalaman hidup sehari-hari.[18]  
Tidak heran jika terdapat banyak definisi mengenai inteligensi, karena beberapa ahli psikologi memiliki pandangan masing-masing terkait inteligensi. Konsep inteligensi sangat sering dijadikan perbedaan dan penilaian individual. Meskipun terdapat berbagai cara membedakan murid-murid, namun faktor inteligensi lebih sering diperhatikan untuk menyimpulkan kemampuan murid.

D.    Perkembangan dan Pengukuran Inteligensi
Waktu membawa manusia tumbuh dan berkembang dari satu fase ke fase selanjutnya. Sehingga sikap dan perilaku anak-anak tidak bisa disamakan dengan orang dewasa, karena orang dewasa telah melalui berbagai fase-fase kehidupan. Kata perkembangan sering dikaitkan dengan pertumbuhan. Pada dasarnya kedua kata ini memiliki makna yang berdekatan. Namun terdapat perbedaan makna pertumbuhan dan perkembangan. Makna pertumbuhan lebih sesuai kepada perubahan jasmaniah atau fisik, sedangkan perkembangan lebih tepat kepada aspek-aspek rohaniah atau psikis.
Perkembangan inteligensi terutama terjadi pada masa kanak-kanak, perubahan itu berlangsung dengan cepat sampai umur 13 atau 15 tahun dan sesudah itu berlangsung dengan lambat.[19] Setiap individu memiliki kecepatan dan kualitas perkembangan yang berbeda. Seseorang mampu berpikir dan membina hubungan sosial yang sangat tinggi dan perkembangannya dalam segi itu sangat cepat, sedangkan orang lain kemampuannya kurang dan perkembangannya lambat.[20]
Maka perkembangan inteligensi antara seorang dengan yang lainnya terdapat perbedaan. Seseorang inteligensinya dapat berkembang dengan cepat, sedangkan orang lain lebih lambat dari padanya. Sehingga terdapat perbedaan tingkatan inteligensi pada manusia. Oleh sebab itu, para ahli psikologi membuat instrumen untuk mengukur tingkatan inteligensi manusia.
Pengukuran inteligensi mulai digalakkan pada awal abad ke-20 (dua puluh) masehi. Sosok Alfred Binet berkebangsawan Paris ialah salah seorang ahli psikologi yang terkenal. Sehingga bangsawan Paris mengakui keahliaannya di bidang psikologi. Ia mulai beranjak untuk menyusun tes inteligensi semenjak tahun 1890-an. Tatkala pemerintah Paris membutuhkan tes inteligensi untuk membedakan tingkat inteligensi anak-anak yang kurang dari normal, maka tugas tersebut dipercayakan kepada Alfred Binet.
Pada tahun 1908 M, diterbitkanlah pengukuran inteligensi hasil usaha Alfred Binet dengan bantuan dari St. Simon yang diberi nama “Tes Binet Simon”.[21] Tes Binet Simon ini memperhitungkan dua hal, yaitu:
1.      Umur kronologis (cronological age disigkat C.A.); yaitu umur seseorang sebagaimana yang ditunjukkan dengan hari kelahirannya atau lamanya ia hidup sejak tanggal lahirnya.
2.      Umur mental (mental age disingkat M.A.); yaitu umur kecerdasan sebagaimana yang ditujukan oleh hasil tes kemampuan akademi.[22]
Tingkat intelegensi ditunjukkan dengan perbandingan kecerdasan atau diistilahkan “Intelligence Quotient”  yang disingkat IQ. Perbandingan kecerdasan tersebut = umur mental dibandingkan dengan umur kronologis, jika dirumuskan:
IQ = MA : CA                        atau ditulis                             
Jika menggunakan rumus di atas sering menghasilkan bilangan pecahan, maka untuk memudahkan pengukuran IQ dikalikan lagi dengan nilai yang tidak mengubah perbandingan aslinya, yaitu dengan bilangan 100%. Sehingga dirumuskan: IQ =  x 100%. Kemudian dihapus % untuk kemudahan perhitungan, sehingga menjadi IQ =  x 100.[23]

E.     Inteligensi dan Pembelajaran
Kondisi intelegensi seseorang memliki pengaruh yang besar dalam keberhasilan proses belajar mengajar, karena menyangkut tingkat kecerdasan  dalam penguasaan ilmu pengetahuan atau materi-materi yang telah dipelajari.
Keberadaan memori, pengetahuan dan belajar merupakan hal penting yang harus dimiliki oleh siswa, karena ketiga komponen tersebut membantu siswa dalam mengasah intelegensinya. Maka memori, pengetahuan dan belajar merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Para siswa membutuhkan ruang memori untuk menyimpan pesan, informasi dan pengetahuan yang tersirat dalam materi yang telah dipelajari.
Di dalam proses belajar mengajar, guru memiliki andil yang besar dalam mengembangkan kemampuan intelegensi siswa. Setiap kali guru mengajarkan siswa, ada kemungkinan terdapat siswa yang suka menonjolkan diri, pamer, pendiam, bodoh dan pintar. Maka guru dituntut  untuk menyelesaikan hal ini dengan cara memperhatikan kondisi intelegensi siswa dari pandangan psikologinya. Jika guru sudah mengetahui kondisi psikologi siswa, maka guru bisa bertindak psikologis dan edukatif, di antara tindakan tersebut antara lain:
1.      Mendekati siswa, kemudian bertanya mengenai kondisi belajanya di rumah.
2.      Mengajak siswa berbicara.
3.      Memperhatikan keadaan ekonomi keluarga siswa.
4.      Memperhatikan keadaan fisik siswa.
5.      Mengetahui budaya masing-masing siswa, dan lain-lain.[24]
Jika tindakan-tindakan di atas terlaksana, maka mudah bagi guru untuk mengkondisikan suasana belajar di dalam kelas. Sehingga kemampuan belajar siswa semakin hari semakin berkembang, meskipun keadaan intelegensi siswa biasa-biasa saja. Maka dari proses belajar ini, diharapkan bisa meningkatkan daya intelegensi para siswa.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1.                   1. Kemampuan Dasar Manusia
Setiap manusia memiliki potensi dasar yang secara alamiah telah dibawa semenjak kecil. Potensi dasar manusia yaitu; jasamani (fisik), rohani (psikis), dan akal. Setiap potensi tersebut memiliki fungsi masing-masing yang secara keseluruhan bekerja sama antara satu potensi dengan potensi lainnya. Meskipun terdapat persamaan potensi, setiap manusia memiliki perbedaan dan ciri khas tersendiri. Ketiga potensi ini juga yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya.

2.                  2. Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik
a.   Kognitif, yaitu perilaku yang berhubungan dengan kecerdasan dan kepintaran otak yang diperoleh dengan cara belajar
b.  Afektif, yaitu perilaku yang berhubungan dengan emosi, perasaan, dan dapat mengatakan apa yang dirasakannya kepada orang tua atau saudaranya.
c.   Psikomotorik, yaitu perilaku yang berhubungan dengan gerak motorik. Seperti gerak kaki, tangan, bicara dan sebagainya.

3.                  3. Inteligensi
Intelegensi merupakan kemampuan untuk belajar dan menggunakan kemampuan yang diperoleh untuk menyelasaikan problematika dalam lingkungan. Setiap orang memiliki inteligensi yang berbeda-beda. Bahkan inteligensi dipandang sebagai salah satu cara pengelompokan siswa-siswa.

4.                  4. Perkembangan dan Pengukuran Inteligensi
Inteligensi dapat berkembang seiring bertambahnya umur manusia. Perkembangan inteligensi terutama terjadi pada masa kanak-kanak, perubahan itu berlangsung dengan cepat sampai umur 13 atau 15 tahun dan sesudah itu berlangsung dengan lambat. Adapun pengukuran inteligensi dapat dilakukan dengan rumus berikut, IQ = MA/CA x 100.

5.                  5. Inteligensi dan Pembelajaran
Tinggi rendahnya nilai inteligensi siswa membawa pengaruh besar dalam proses belajar mengajar, karena menyangkut dengan daya tangkap dan penguasaan materi belajar oleh siswa. Dalam hal ini memori, pengetahuan dan belajar membantu siswa menyerap pelajaran semaksimal mungkin. Oleh sebab itu, ketiga komponen tersebut tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya.
Di samping itu, peran guru juga sangat penting untuk memantau kondisi siswa dari segi psikologisnya, karena tugas guru bukan hanya menyampaikan materi belajar, melainkan sebagai pentansfer informasi sekaligus pemantau sukses tidaknya proses belajar mengajar yang dilakukan.


DAFTAR PUSTAKA


Alquran dan Terjemahannya, Penerbit Sabiq, Jakarta
Santrock, John W., Psikologi Pendidikan, Kencana, Jakarta, 2013.
Soemanto, Wasty, Psikologi Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 2012.
Sukmadinata, Nana Syaodih, Landasan Psikologi Proses Pendidikan,Remaja         Rosdakarya, Bandung, 2011.
Suryabata, Sumadi, Psikologi Pendidikan, Rajagrafindo Persada, Jakarta, 2011.
Willis, Sofyan S., Psikologi Pendidikan, Alfabeta, Bandung, 2013.





[1] Alquran dan Terjemahannya, (Jakarta: Penerbit Sabiq), h. 597.
[2] Ibid, h. 289
[3] Khalifah berarti pengganti, pemimpin atau penguasa.
[4] Alquran dan Terjemahannya, (Jakarta: Penerbit Sabiq), h. 6.
[5] Ibid, h. 25
[6] Ibid, h. 252
[7] Ibid, h. 272
[8] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta : Gramedia, 2008), edisi keempat, h. 712
[9] Sofyan S. Willis, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2013), cet. kedua, h. 81
[10] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 14
[11] Sofyan S. Willis, Psikologi Pendidikan, h. 81
[12] Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011) cet. keenam, h. 78
[13] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, h.1109
[14] Sofyan S. Willis, Psikologi Pendidikan, h. 81-82
[15] Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Terjemahan Syarah Hadis Arba’in, (Jakarta: Pestaka Ibnu Katsir), cet. ketujuh, h. 389
[16] Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2012) cet. kelima, h. 141
[17] Ibid, h. 143
[18] John W. Santrock, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2013), cet. kelima, h. 134
[19] Sumadi Suryabata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2011) cet. ke-18, h. 157
[20] Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, h. 112
[21] Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, h. 146-147
[22] Ibid, h.  147
[23] Ibid, h.  147
[24] Sofyan S. Willis, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2013), cet. kedua, h. 77