BAB I
PENDAHULUAN
Manusia merupakan salah satu makhluk ciptaan Allah -azzawajalla- diantara sekian banyak ciptaan yang lainnya. Di dalam agama Islam
setiap manusia terlahir ke dunia dalam keadaan fitrah (suci), tidak
membawa dosa apapun. Di samping itu, dalam penciptaannya telah Allah -azzawajalla-bentuk jasadnya sedemikian rupa beserta kemampuan-kemampuan yang telah
Allah -azzawajalla-titipkan pada jasadnya. Meskipun penciptaan manusia pada umumnya sama,
akan tetapi terdapat berbagai macam potensi yang berbeda-beda pada setiap diri manusia.
Adapun problematika yang sering disebut-sebut yaitu apabila seseorang
tidak mampu menguasai suatu disiplin ilmu dalam jangka waktu yang telah ditentukan
maka lontaran kata paling pertama didengar ialah “kamu bodoh”, “tidak pandai”
dan sebagainya. Tentu saja hal ini berlawanan dengan konsep penciptaan manusia.
Demikian juga jika ditinjau dari segi waktu, manusia akan melewati
fase-fase kehidupan untuk proses pertumbuhan dan perkembangannya. Masa-masa
inilah yang akan memberikan perubahan pada diri manusia sedikit demi sedikit
melalui proses pelatihan dan pembiasaan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Kemampuan Dasar Manusia
Allah U dengan segala
kuasa yang dimiliki-Nya menciptakan anak adam dengan segala kesempurnaan.
Menganugerahkan segala nikmat untuk dimanfaatkan demi kelangsungan hidup
hamba-Nya. Allah berfirman dalam surah at-Tin ayat 4:
)لَقَدْ خَلَقْناَ اْﻹِنْسٰنَ فِـىۤ أَحْسَنِ تَقْوِيْــــمٍ(
Kemudian Allah -azzawajalla- memuliakan dan menganugerahkan manusia
segala nikmat untuk kelangsungan hidupnya. Allah -azzawajalla- berfirman
dalam surah al-Isra’ ayat 70:
)وَلَقَدْ
كَرَّمْناَ بَنِــيۤ اٰدَمَ وَ حَـمَلْــنٰهُمْ فِـى اْلبَرِّ وَ اْلبَحْرِ
وَرَزَقْنٰهُمْ مِنَ اْلطَّــــــيِّــــبــٰتِ وَ فَضَّلْنٰهُمْ عَلــىٰ
كَثِيْرٍ مِّـمَّنْ خَلَقْناَ تَــــــــفْـــــضِـــيْـــــلاً(
“Dan sungguh
Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan kami angkut mereka di darat dan di
laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka
di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna”.[2]
Kesempurnaan yang dianugerahkan kepada manusia tidak
terlepas dari tanggungan yang Allah -azzawajalla- bebankan
kepadanya, yaitu menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Sebagaimana
Allah -azzawajalla- berfirman
dalam Surah al-Baqarah ayat 30:
)وَ إِذْ قَالَ رَبُّك لِلْمَلَئِكَةِ
اِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيْفَةً(
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada
para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah[3]
di bumi””.[4]
Ayat di atas menerangkan bahwasanya salah satu
tujuan penciptaan manusia yaitu memimpin dan mengelola dunia dengan segenap
kemampuannya, dan pesan yang tersirat di dalam ayat di atas yaitu Allah -azzawajalla- menganugerahkan
kemampuan dan kesempurnaan kepada manusia untuk digunakan memimpin dunia.
Adapun kemampuan dasar yang dimiliki manusia tidak
terlepas dari tiga potensi dasar kemampuan manusia, antara lain:
1.
Jasmaniah
Jasmaniah atau fisik yang dianugerahkan oleh
Allah -azzawajalla- kepada setiap
manusia, berupa anggota badan; kepala, tangan, kaki, dan lain-lain dituntut
untuk digunakan pada hal yang bermanfaat baginya. Jasmani memiliki kebutuhan
yang harus dipenuhi,
seperti kebutuhan biologis, istirahat, dan kebutuhan makanan halalan
thayyiban, Allah -azzawajalla-berfirman dalam
surah al-Baqarah ayat 168 :
)ياَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي
الأَرْضِ حَللًا طَيِّبًا(
“Wahai
manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi”[5]
2.
Rohaniah
Rohaniah atau psikis merupakan nikmat Allah -azzawajalla- sebagai potensi kecerdasan yang dikandung dalam jasmani berhubungan dengan
energi spiritual antara hamba dengan Tuhannya. Adapun cara untuk memperoleh energi
tersebut dengan berdzikir. Allah -azzawajalla- berfirman dalam surah ar-Ra’d ayat 28:
)الذِينَ
أَمَنُوا وَ تَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ(
3.
Akal
Nikmat akal Allah -azzawajalla- anugerahkan kepada manusia sebagai pembeda antara manusia dengan hewan. Akal digunakan untuk
berpikir agar mampu menyelesaikan problematika kehidupan. Kebutuhan akal yaitu ilmu,
Allah -azzawajalla- berfirman dalam surah an-Nahl ayat 43:
)فَسْأَلُوا
أهْلَ الذِّكرِ اِنْ كُنْتُم لَا تَعْلَمُونَ(
“maka
bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak
mengetahui”.[7]
B.
Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik
Jika dicermati
dengan baik, setiap manusia memiliki perbedaan yang begitu jauh dari berbagai
segi. Ada seseorang memiliki pengetahuan yang luas, namun kurang cermat dalam mengaplikasikannya.
Ada juga seseorang tidak berpengetahuan luas, namun pandai mengaplikasikannya.
Hal ini sering ditemui di kalangan masyarakat. Adapun seseorang yang mampu
menguasai perilaku kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan) dan psikomotorik
(aktif/praktek), akan memudahkannya menjalani kehidupannya.
1.
Kognitif
Kognitif berhubungan dengan kognisi. Adapun
kognisi, yaitu kegiatan atau proses memperoleh pengetahuan (termasuk kesadaran,
perasaan dsb) atau usaha mengenali sesuatu melalui pengalaman sendiri.[8]
Kognitif merupakan perilaku yang berhubungan
dengan kecerdasan dan kepintaran otak yang diperoleh dengan cara belajar.[9]
Setiap siswa dituntut untuk menggali ilmu
pengetahuan sebanyak-banyaknya, karena jika dilihat dari segi umur, siswa memiliki
waktu yang masih panjang untuk berkembang. Pengetahuan yang dimilikinya bisa di
manfaatkan untuk menyeleasikan problematika kehidupan, baik sektor ekonomi, politik,
kedaulatan negara dan sebagainya. Oleh sebab itu, kemampuan perilaku kognitif
sebaiknya dimiliki oleh setiap siswa.
Terdapat beberapa hal yang disebutkan oleh Bloom terkandung dalam ranah kognitif, antara lain:
a.
Pengetahuan, yaitu kemampuan mengingat materi.
b. Pemahaman, yaitu kemampuan memahami materi dengan
berfikir dan berusaha menangkap materi.
c. Penerapan, yaitu kemampuan mengambil manfaat dari
materi dan menerapkan pada kondisi yang berbeda.
d. Analisis, yaitu kemampuan menguraikan materi dan
mengetahui sebab akibat dari materi serta memahami hubungan antara satu komponen
dengan komponen lainnya.
e. Sintesa, yaitu kemampuan memadukan konsep sehingga
menghasilkan sesuatu yang baru.
f.
Evaluatif, yaitu kemampuan dalam hal menguji
dan memberi nilai.
2. 2. Afektif
Jika dilihat di KBBI, afektif yaitu perilaku yang
berkenaan dengan perasaan. Seperti takut, cinta, dan sebaginya.[10]
Afektif merupakan perilaku yang berhubungan
dengan emosi, perasaan, dan dapat mengatakan apa yang dirasakannya kepada orang
tua atau saudaranya.[11]
Perasaan (feeling) sama seperti emosi
merupakan suasana batin atau suasana hati yang membentuk suatu kontinum atau
garis. Kontinum ini bergerak dari ujung yang paling positif yaitu sangat senang
sampai ke ujung paling negatif, sangat tidak senang. Beberapa bentuk perasan
lain yaitu suka atau tidak suka, tegang atau lega, dan sebagainya.[12]
Ada beberapa hal yang disebutkan oleh Krathwol terkandung dalam ranah afektif, antara lain:
a. Penerimaan, yaitu kemampuan memperhatikan penjelasan
materi.
b. Respon atau parsitipasi, yaitu kemampuan
memberi perhatian kepada penjelasan dan aktif dalam belajar.
c. Penilaian atau penentuan sikap, yaitu kemampuan
memberi nilai perasaan dari suatu keadaan, baik menerima,
menolak atau tidak menghiraukan.
d. Organisasi, yaitu kemampuan menyatukan nilai-nilai
dari sikap-sikap yang berbeda yang muncul secara eksternal menjadi suatu sistem
internal.
e. Karakterisasi/pembentukan
pola hidup, yaitu kemampuan membentuk kepribadian yang baik, dengan tujuan terciptanya
aturan pribadi, emosi jiwa, perasaan dan sosial.
3. 3. Psikomotorik
Di dalam KBBI disebutkan, psikomotorik yaitu
sesuatu yang berhubungan dengan aktifitas fisik yang berkaitan dengan proses
mental dan psikologi.[13]
Adapun pengertian lainnya, psikomotorik
merupakan perilaku yang berhubungan dengan gerak motorik. Seperti gerak kaki,
tangan, bicara dan sebagainya.[14]
Setiap anggota tubuh yang telah Allah U ciptakan terdapat
padanya perintah untuk selalu digunakan dalam hal kebaikan. Bahkan Rasulullah r menekankan dalam
hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah -radhiallahu 'anhu-:
كُلُّ سُلَامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيهِ
صَدَقَةٌ (رواه
البخاري و مسلم)
Ada beberapa hal yang disebutkan oleh Davc terkandung
dalam ranah psikomotorik, antara lain:
a. Peniruan, yaitu kemampuan mengamati dan
mengikuti.
b. Manipulasi, yaitu penekanan perkembangan
kemampuan siswa dengan mengikuti petunjuk-petunjuk, dalam hal ini siswa menampilkan
sesuatu dengan pedoman petunjuk.
c. Pengalamiahan, yaitu tingkah laku yang tidak
mengorbankan banyak tenaga fisik dan psikis.
Setiap komponen di atas saling berkaitan antara
satu dengan yang lainnya. Seperti seorang siswa memperhatikan pelajaran
mengenai teknik berenang dari Guru penjaskesnya. Ia mampu menangkap pelajaran
dari Gurunya (ia berhasil memperoleh perilaku kognitif), sehingga muncul rasa
senang dan menyukai berenang (bentuk perilaku afektif). Hal selanjutnya yang
dilakukan siswa yaitu praktek berenang dari pengetahuan yang dimilikinya
(bentuk perilaku psikomotorik).
C.
Intelegensi
Intelegensi merupakan salah satu anugerah yang
terdapat dalam diri manusia yang bisa digunakan untuk memecahkan masalah (problem
solving). Super dan Cites mengemukakan (dikutip oleh Wasty Soemanto)[16]
inteligensi ialah kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan atau belajar
dari pengalaman. Manusia hidup untuk berinteraksi dengan lingkungannya agar
mampu menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungannya untuk kelestarian dan
perkembangannya.
Definisi di atas dianggap masih bersifat umum,
oleh sebab itu Heidenrich (dikutip oleh Wasty Soemanto)[17]
mendefinisikan inteligensi lebih rinci, yaitu kemampuan untuk belajar dan
menggunakan apa yang telah dipelajari dalam usaha penyesuaian terhadap
situasi-situasi yang kurang dikenal, atau dalam pemecahan masalah-masalah.
Setiap manusia memiliki masalah, dari masalah tersebut manusia akan memperoleh
pelajaran yang bermanfaat baginya.
Terdapat banyak definisi yang dinyatakan oleh
para ahli mengenai makna inteligensi, hal ini disebabkan konsep inteligensi
bersifat abstrak dan luas. Oleh sebab itu, John W. Santrock merangkum definisi
inteligensi, yaitu keahlian memecahkan masalah dan kemampuan untuk beradaptasi
pada dan belajar dari pengalaman hidup sehari-hari.[18]
Tidak heran jika terdapat banyak definisi mengenai
inteligensi, karena beberapa ahli psikologi memiliki pandangan masing-masing terkait
inteligensi. Konsep inteligensi sangat sering dijadikan perbedaan dan penilaian
individual. Meskipun terdapat berbagai cara membedakan murid-murid, namun
faktor inteligensi lebih sering diperhatikan untuk menyimpulkan kemampuan murid.
D. Perkembangan dan Pengukuran Inteligensi
Waktu membawa
manusia tumbuh dan berkembang dari satu fase ke fase selanjutnya. Sehingga sikap
dan perilaku anak-anak tidak bisa disamakan dengan orang dewasa, karena orang
dewasa telah melalui berbagai fase-fase kehidupan. Kata perkembangan sering
dikaitkan dengan pertumbuhan. Pada dasarnya kedua kata ini memiliki makna yang
berdekatan. Namun terdapat perbedaan makna pertumbuhan dan perkembangan. Makna
pertumbuhan lebih sesuai kepada perubahan jasmaniah atau fisik, sedangkan
perkembangan lebih tepat kepada aspek-aspek rohaniah atau psikis.
Perkembangan
inteligensi terutama terjadi pada masa kanak-kanak, perubahan itu berlangsung dengan
cepat sampai umur 13 atau 15 tahun dan sesudah itu berlangsung dengan lambat.[19] Setiap
individu memiliki kecepatan dan kualitas perkembangan yang berbeda. Seseorang
mampu berpikir dan membina hubungan sosial yang sangat tinggi dan
perkembangannya dalam segi itu sangat cepat, sedangkan orang lain kemampuannya
kurang dan perkembangannya lambat.[20]
Maka perkembangan
inteligensi antara seorang dengan yang lainnya terdapat perbedaan. Seseorang
inteligensinya dapat berkembang dengan cepat, sedangkan orang lain lebih lambat
dari padanya. Sehingga terdapat perbedaan tingkatan inteligensi pada manusia.
Oleh sebab itu, para ahli psikologi membuat instrumen untuk mengukur tingkatan inteligensi
manusia.
Pengukuran
inteligensi mulai digalakkan pada awal abad ke-20 (dua puluh) masehi. Sosok
Alfred Binet berkebangsawan Paris ialah salah seorang ahli psikologi yang
terkenal. Sehingga bangsawan Paris mengakui keahliaannya di bidang psikologi. Ia
mulai beranjak untuk menyusun tes inteligensi semenjak tahun 1890-an. Tatkala pemerintah
Paris membutuhkan tes inteligensi untuk membedakan tingkat inteligensi anak-anak
yang kurang dari normal, maka tugas tersebut dipercayakan kepada Alfred Binet.
Pada tahun 1908
M, diterbitkanlah pengukuran inteligensi hasil usaha Alfred Binet dengan
bantuan dari St. Simon yang diberi nama “Tes Binet Simon”.[21] Tes
Binet Simon ini memperhitungkan dua hal, yaitu:
1.
Umur kronologis (cronological age disigkat
C.A.); yaitu umur seseorang sebagaimana yang ditunjukkan dengan hari
kelahirannya atau lamanya ia hidup sejak tanggal lahirnya.
2.
Umur mental (mental age disingkat M.A.);
yaitu umur kecerdasan sebagaimana yang ditujukan oleh hasil tes kemampuan
akademi.[22]
Tingkat
intelegensi ditunjukkan dengan perbandingan kecerdasan atau diistilahkan “Intelligence
Quotient” yang disingkat IQ.
Perbandingan kecerdasan tersebut = umur mental dibandingkan dengan umur
kronologis, jika dirumuskan:
IQ = MA : CA atau ditulis
Jika menggunakan rumus di atas sering menghasilkan bilangan pecahan,
maka untuk memudahkan pengukuran IQ dikalikan lagi dengan nilai yang tidak
mengubah perbandingan aslinya, yaitu dengan bilangan 100%. Sehingga dirumuskan:
IQ =
x 100%. Kemudian
dihapus % untuk kemudahan perhitungan, sehingga menjadi IQ =
x 100.[23]
E. Inteligensi dan Pembelajaran
Kondisi
intelegensi seseorang memliki pengaruh yang besar dalam keberhasilan proses
belajar mengajar, karena menyangkut tingkat kecerdasan dalam penguasaan ilmu pengetahuan atau
materi-materi yang telah dipelajari.
Keberadaan
memori, pengetahuan dan belajar merupakan hal penting yang harus dimiliki oleh
siswa, karena ketiga komponen tersebut membantu siswa dalam mengasah intelegensinya.
Maka memori, pengetahuan dan belajar merupakan satu kesatuan yang tidak bisa
dipisahkan. Para siswa membutuhkan ruang memori untuk menyimpan pesan,
informasi dan pengetahuan yang tersirat dalam materi yang telah dipelajari.
Di dalam proses
belajar mengajar, guru memiliki andil yang besar dalam mengembangkan kemampuan
intelegensi siswa. Setiap kali guru mengajarkan siswa, ada kemungkinan terdapat
siswa yang suka menonjolkan diri, pamer, pendiam, bodoh dan pintar. Maka guru
dituntut untuk menyelesaikan hal ini
dengan cara memperhatikan kondisi intelegensi siswa dari pandangan psikologinya.
Jika guru sudah mengetahui kondisi psikologi siswa, maka guru bisa bertindak
psikologis dan edukatif, di antara tindakan tersebut antara lain:
1.
Mendekati siswa, kemudian bertanya mengenai
kondisi belajanya di rumah.
2.
Mengajak siswa berbicara.
3.
Memperhatikan keadaan ekonomi keluarga siswa.
4.
Memperhatikan keadaan fisik siswa.
5.
Mengetahui budaya masing-masing siswa, dan
lain-lain.[24]
Jika
tindakan-tindakan di atas terlaksana, maka mudah bagi guru untuk mengkondisikan
suasana belajar di dalam kelas. Sehingga kemampuan belajar siswa semakin hari semakin
berkembang, meskipun keadaan intelegensi siswa biasa-biasa saja. Maka dari
proses belajar ini, diharapkan bisa meningkatkan daya intelegensi para siswa.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. 1. Kemampuan Dasar Manusia
Setiap manusia memiliki potensi dasar yang
secara alamiah telah dibawa semenjak kecil. Potensi dasar manusia yaitu;
jasamani (fisik), rohani (psikis), dan akal. Setiap potensi tersebut memiliki
fungsi masing-masing yang secara keseluruhan bekerja sama antara satu potensi
dengan potensi lainnya. Meskipun terdapat persamaan potensi, setiap manusia
memiliki perbedaan dan ciri khas tersendiri. Ketiga potensi ini juga yang
membedakan manusia dengan makhluk lainnya.
2. 2. Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik
a. Kognitif, yaitu perilaku yang berhubungan
dengan kecerdasan dan kepintaran otak yang diperoleh dengan cara belajar
b. Afektif, yaitu perilaku yang berhubungan dengan
emosi, perasaan, dan dapat mengatakan apa yang dirasakannya kepada orang tua
atau saudaranya.
c. Psikomotorik, yaitu perilaku yang berhubungan
dengan gerak motorik. Seperti gerak kaki, tangan, bicara dan sebagainya.
3. 3. Inteligensi
Intelegensi merupakan kemampuan untuk belajar
dan menggunakan kemampuan yang diperoleh untuk menyelasaikan problematika dalam
lingkungan. Setiap orang memiliki inteligensi yang berbeda-beda. Bahkan
inteligensi dipandang sebagai salah satu cara pengelompokan siswa-siswa.
4. 4. Perkembangan dan Pengukuran Inteligensi
Inteligensi dapat berkembang seiring
bertambahnya umur manusia. Perkembangan inteligensi terutama terjadi pada masa
kanak-kanak, perubahan itu berlangsung dengan cepat sampai umur 13 atau 15
tahun dan sesudah itu berlangsung dengan lambat. Adapun pengukuran inteligensi
dapat dilakukan dengan rumus berikut, IQ
= MA/CA x 100.
5. 5. Inteligensi dan Pembelajaran
Tinggi rendahnya nilai inteligensi siswa
membawa pengaruh besar dalam proses belajar mengajar, karena menyangkut dengan
daya tangkap dan penguasaan materi belajar oleh siswa. Dalam hal ini memori,
pengetahuan dan belajar membantu siswa menyerap pelajaran semaksimal mungkin.
Oleh sebab itu, ketiga komponen tersebut tidak bisa dipisahkan antara satu
dengan yang lainnya.
Di samping itu, peran guru juga sangat penting
untuk memantau kondisi siswa dari segi psikologisnya, karena tugas guru bukan
hanya menyampaikan materi belajar, melainkan sebagai pentansfer informasi sekaligus
pemantau sukses tidaknya proses belajar mengajar yang dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA
Alquran
dan Terjemahannya, Penerbit Sabiq,
Jakarta
Santrock,
John W., Psikologi Pendidikan, Kencana, Jakarta, 2013.
Soemanto,
Wasty, Psikologi Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 2012.
Sukmadinata,
Nana Syaodih, Landasan Psikologi Proses Pendidikan,Remaja Rosdakarya, Bandung, 2011.
Suryabata,
Sumadi, Psikologi Pendidikan, Rajagrafindo Persada, Jakarta, 2011.
Willis,
Sofyan S., Psikologi Pendidikan, Alfabeta, Bandung, 2013.
[1] Alquran dan
Terjemahannya, (Jakarta: Penerbit Sabiq), h. 597.
[2] Ibid, h.
289
[3] Khalifah
berarti pengganti, pemimpin atau penguasa.
[4] Alquran dan
Terjemahannya, (Jakarta: Penerbit Sabiq), h. 6.
[5] Ibid, h. 25
[6] Ibid, h.
252
[7] Ibid, h.
272
[8] Departemen
Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta : Gramedia,
2008), edisi keempat, h. 712
[9] Sofyan S.
Willis, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2013), cet. kedua, h.
81
[10] Departemen
Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 14
[11] Sofyan S.
Willis, Psikologi Pendidikan, h. 81
[12] Nana Syaodih
Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2011) cet. keenam, h. 78
[13] Departemen
Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, h.1109
[14] Sofyan S.
Willis, Psikologi Pendidikan, h. 81-82
[15] Muhammad bin
Shalih al-Utsaimin, Terjemahan Syarah Hadis Arba’in, (Jakarta: Pestaka
Ibnu Katsir), cet. ketujuh, h. 389
[17]
Ibid, h. 143
[18] John W.
Santrock, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2013), cet. kelima,
h. 134
[19] Sumadi
Suryabata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2011)
cet. ke-18, h. 157
[20] Nana Syaodih
Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, h. 112
[21] Wasty
Soemanto, Psikologi Pendidikan, h. 146-147
[22] Ibid,
h. 147
[23] Ibid,
h. 147
[24] Sofyan S.
Willis, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2013), cet. kedua, h. 77